Sejak Al Qur-an diturunkan di zaman itu, bahwa kita di peringatkan harus waspada terhadap usaha "orang kafir"




PERINGATAN !

Kalau mau membaca tulisan ini
terlebih dahulu pembaca
dituntut ketulusan hati dan
pikiran yang netral.





Jika membaca dengan cermat maka kita akan
sadar bahwa Al Quran secara tersamar
membenarkan peristiwa penyaliban
terhadap nabi pembawa Injil yang
telah terjadi sebelum ada Al Quran!






Sekalipun oknum nabi


pembawa Injil



tidak disalibkan,



jadi apa untungnya



bagi orang



Mu’min / Islam ?






Bukti bahwa Al Quran adalah
kitab yang sempurna”.

Karena setiap pembaca Al Quran dapat
menghasilkan kesempurnaan
dalam hal untuk memilih
percaya ataupun menyangkal tentang
kisah peristiwa penyaliban dimasa lalu.

Oleh karena itu Al Quran disebut kitab yang “Hak” dari Allah untuk
diberikan “hak kebebasan” memilih bagi manusia tanpa paksaan,
sehingga "sempurna" apapun pilihan pribadinya !




.Coba kita teliti kembali ayat tentang penyaliban Nabi Isa
di Q.4 :156 dan Q.4 : 157.



Al Quran surat 4.AN NISAA’ ayat 156:
Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),
(tanda koma pada ayat ini / 
156 adalah indikasi masih adanya hubungan dengan ayat selanjutnya. oleh karena itu ayat selanjutnya /157, diawali dengan huruf kecil ).



Ket:
1 - Jelas kalau kita perhatikan di ayat tersebut Q.4:156, bahwa “mereka” adalah orang yang kafir terhadap Isa !
2 - Jadi siapa yang terbilang kafir terhadap Isa di zaman itu (era Al Quran diturunkan) ?
Yang pasti bukan kaum Nasrani maupun Muslim !
Oleh karena yang dimaksud orang kafir dalam ayat tersebut (Q.4:156) bukan orang Mu'min dan juga bukan orang Nasrani, maka bisa disimpulkan bahwa yang kafir adalah mayoritas orang-orang keturunan Yahudi dan termasuk siapa saja tanpa terkecuali yang
ikut menolak / menyangkal nabi pembawa Injil yang tidak lain
adalah menyangkal Yesus Kristus di zaman itu !
(Sebab 600 tahun sebelum ayat iniQur'an diturunkan, nama Yesus sudah terlebih dahulu dikenal tertulis di Injil Kristus)  

2a- Yang paling utama harus kita mengerti makna yang ada di ayat 156 yaitu untuk menekankan bagi pembaca Al Quran bahwa
orang Mu'min (orang yang masih "berpikiran netral") dan orang Nasrani (sekarang disebut Kristen) pada dasarnya (fitrah diri) tidak'lah kafir seperti mereka sejak dizaman itu bahkan sampai pada hari ini !

Oleh karena itu penjelasan di ayat 156 supaya kita tanggap akan makna dari isi ayat selanjutnya 157 agar semua orang di dunia sampai dengan hari ini selalu waspada akan "ucapan mereka yang kafir" terhadap nabi pembawa Injil !

Jadi kalau diperhatikan ayat 157 sudah ditekankan dengan kesimpulan bahwa: 
padahal ucapan diserupakan dengan Isahanya bagi mereka, jadi bukan bagi Allah Yang Maha Tahu !

3 - Coba kita lanjutkan ayat berikutnya dengan indikasi di ayat 157, bahwa mereka adalah keturunan Yahudi dizaman itu  (mayoritas orang-orang yang kafir terhadap nabi pembawa Injil) !

.
.

Al Quran surat 4.AN NISAA’ ayat 157:
dan karena ucapan mereka : Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka (orang kafir) tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi ( yang mereka / orang kafir bunuh ialah ) orang yang di serupakan dengan ‘Isa bagi mereka (orang kafir). Sesungguhnya orang-orang yang berselisi paham tentang ( pembunuhan ) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka (orang kafir) tidak mempunyai keyakinantentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka (orang kafir) tidak ( pula ) yakin bahwa yang mereka(orang kafir) bunuh itu adalah ‘Isa.



Ket : Kalau kita meyakini Al Quran Wahyu / perkataan Allah disampaikan oleh Jibril , karena Allah Maha Tahu maka jelas makna dari isi Q.4:157 adalah bukan pendapat Allah yang mengatakan di serupa kan denganIsa, melainkan jelas pendapat tersebut sumbernya dari ucapan mereka / "bagi merekaorang-orang yang kafir terhadap Isa nabi pembawa Injil (gambaran Yesus) di zaman itu !

Ucapan tersebut dilakukan karena mereka menghendaki supaya 0rang-orang di zaman itu terpengaruh menjadi kafir seperti mereka, hal tersebut sudah terlebih dahulu ditegaskan di Q.4:89.

Jika kita sudah teliti membacanya dari ayat 156 kemudian masih berlanjut dengan ayat 157, maka jelas tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu ayat  Al Quran menerangkan kembali dengan tegas bahwa: "mereka" tidak yakin yang dibunuh adalah 'Isa (ujung ayat 157),  hal itu disebabkan mereka dasarnya / awalnya sudah "kafir kepada Isa / nabi pembawa Injil !"yang sudah jelas tertulis diawal ayat 156).



Hal ini harus disimak dengan teliti!

Karena Quran surat 4:156-157 hanya menceritakan pendapat orang-orang tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu, maka isi dari kedua ayat tersebut sangat lengkap makna yang terkandung di dalamnya, tetapi tersamar dalam penyampaian kalimatnya.
Jadi sebenarnya mudah untuk menyimpulkan: Bahwa ayat tersebut (Q.4:156-157) membuktikan terjadinya penyangkalan akibat diawali adanya pengakuan dari mereka yang percaya!

Coba kita perhatikan kalimat-kalimat di ayat 157 :

Indikasi kalimat: mereka yang percaya:
Sesungguhnya kami telah membunuh”.

Indikasi kalimat: mereka yang tidak percaya / kafir :
Karen kekafiran mereka (terhadap isa),
orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka”.



Ingat ! ayat 157 di surat 4, dengan tegas
pada kalimat pembuka / di awalnya sudah
mengisyaratkan :
dan karena ucapan mereka
Jadi semua isi dari ayat tersebut menyataka hasil
dari perkataan mereka orang-orang yang berselisih
paham antara (minoritas) mereka yang percaya
berdebat dengan (mayoritas) mereka yang kafir
tentang peristiwa penyaliban yang sudah berlalu
600 tahun terhitung dari ayat tersebut diturunkan.


Jadi jelas karena peristiwa penyaliban
(kisah nyata kehidupan Yesus Kristus) sudah
terjadi 600 tahun yang lalu, maka isi dari ayat 157
sangat masuk akal karena isinya hanya menceritakan
pendapat "minoritas mereka yang percaya"
dan
"mayoritas mereka yang menyangkal".

Oleh karena itu pembaca harus “hati-hati
dalam mengambil kesimpulan
terhadap isi ayat 157, karena isi ayat tersebut
"bukan menyatakan nabi Isa tidak disalib!" dan juga
"bukan menyatakan nabi Isa telah disalib!"
Tetapi ayat tersebut berisi hanya perdebatan tentang penyaliban.


Kalaupun pembaca sudah mengetahui bahwa
"Isa" adalah figur dari "Yesus Kristus" dan
kemudian menyatakan pula nabi Isa tidak disalib
berarti pembaca ikut terpengaruh isi ayat tersebut

padahal ucapan "diserupai" hanya bagi orang Yahudi
yang kafir terhadap "Isa"
seperti yang tertulis di dalamnya (Q.4;157),

akibatnya pembacapun menjadi ikut-ikutan
menyatakan "Yesus Kristus" tidak disalib
walaupun nama Yesus tidak terdapat di Al Quran.
Dengan demikian orang tersebut
termasuk orang yang mendustakan
salah satu ayat Al Quran, karena isi ayat 4:157 hanya mengisahkan perdebatan mereka yang percaya vs yang kafir terhadap perstiwa penyaliban di masa lalu, pendustaan tersebut tersirat di Q.69:49

Kalaupun pembaca menyatakan "nabi Isa disalib"
hal itupun menjadi serba salah (karena ayat 157 isinya hanya gambaran pengakuan dari "mereka orang Yahudi yang percaya"bukan dari saksi hidup), sebab Al Quran bukan kisah nyata kehidupan nabi pembawa Injil !
Yang lebih tepat lagi bahwa Allah Maha Tahu
jadi kepada nama "yang Hak" yaitu kepada
nama Yesus Kristus yang sesungguhnya kisah
penyaliban hanya tertulis di Injil, karena peristiwa
tersebut sudah terjadi sebelum ada Al Quran.

Hal itulah yang membuat semua orang Mu'min sulit
untuk mengambil kesimpulan yang pasti
tentang "siapa yang disalib", kemudian yang menjadi akar
permasalahannya yaitu semua ayat-ayat yang
menyinggung nabi pembawa Injil
tertulis bukan memakai "nama asli" maka bersifat
samar-samar yang disebut "mutasyabihat" sehingga
sangat rawan bisa menimbulkan "fitnah" terhadap
peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang telah terjadi
sebelum Al Quran diturunkan. (tersirat di Q.3:7).

Oleh karena itu masalah penyaliban menjadi sebuah
bagi semua orang yang hanya membaca Al Quran
saja tanpa dikaji sambil  membaca Injil Kristus.

Jadi supaya perdebatan tentang penyaliban tidak terjadi lagi, maka kita harus tahu secara hakiki "siapa Yesus Kristus di Injil?" dan  "siapa Isa Almasih di Al Quran?".

Ket:
Walaupun kedua nama tersebut untuk satu tokoh yang sama karena masing-masing menyinggung tentang Injil, tetapi "Kharisma" dari masing-masing nama tersebut berbeda!  

Oleh karena itu nama Isa bukanlah Yesus Kristus yang sesungguhnya, tetapi hanyalah figur / gambaran Yesus Kristus dari sudut pandang manusia biasa saja pada saat Dia berada di dunia / alam zhahir.
Dengan demikian bagi orang yang hanya membaca Al Quran saja maka sudah tertanam dalam benaknya secara permanen dengan pengertian bahwa "Isa nabi pembawa injil" hanya manusia biasa saja, sehingga yang bersangkutan memandang Yesus Kristus-pun "disaat ini" hanyalah manusia biasa saja.
Oleh karena itu yang bersangkutan sangat sulit untuk memahami siapa "Yesus Kristus yang sesungguhnya" disaat sekarang ini dan nanti !


Jadi jelas kalau kita memandang Yesus di masa silam  disaat berada di alam nyata dunia maka kita hanya melihat dari sudut pandang manusia biasa saja.

Tetapi setelah Yesus Kristus bangkit dan meninggalkan pesan ke-Illahian bahwa Dia nanti akan datang kembali ke-dunia untuk mengumpulkan semua orang (seperti yang diyakini umat Mu’min:  “Isa akan datang di akhir zaman), maka jelas bahwa Dia adalah “Manusia Illahi” yang tidak lain kita sekarang disarankan untuk  menyebutNya (tersirat di Q.34:26) Katakanlah:  “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, ……… ”.




Karena penjelasan tentang penyaliban terbagi dalam 2 ayat /156-157 , sehingga sekarang ini orang yang membaca tidak teliti akan mudah terlena di ayat 157 !
Maka akibatnya menjadi keliru sehingga ikut menyangkal sejarah peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang tertulis di Injil, 600 tahun sebelum ada AlQuran!

Ingat !

Disaat ayat tersebut diturunkan (Q4:156-157) hanya rasul Muhammad seorang diri saja yang pertama menerimanya, jadi dalam ayat tersebut tergambar bahwa yang kafir kepada "Isa"  (nabi pembawa Injil) adalah orang-orang keturunan Yahudi yang asal usulnya kafir kepada Yesus Kristus, dan juga  yang percaya kepada "Isa" yaitu orang-orang keturunan Yahudi yang asal usulnya percaya kepada Yesus Kristus.

Dengan demikian disaat itu belum ada kelompok Islam pemegang syariat karena belum terdapat kitab Hadits, tetapi dizaman itu yang ada kelompok Mu'min yaitu kelompok orang-orang yang berserah total kepada Allah dan masih  "berpikiran netral" tidak berpihak kepada Nasrani dan tidak pula berpihak kepada Yahudi.

Oleh karena itu sejak awal dizaman itu ayat Al Quran  yang menyinggung masalah penyaliban hanya bertujuan supaya dipahami oleh setiap pribadi orang yang "berpikiran netral" / "orang Mu'min", agar mengambil kesimpulan dari hasil "pengkajian" yang mana yang benar tentang peristiwa penyaliban dimasa silam yang memang sejak dahulu sudah diributkan oleh orang-orang Yahudi saja.
Karena semua adalah sejarah masa lampau maka Al Quran-pun menjelaskan bahwa sejarah  peristiwa penyaliban masih juga diperselisihkan oleh orang-orang Yahudi saja, yaitu antara Yahudi yang percaya  vs Yahudi yang  kafir.

Itulah makna dari isi Al Quran yaitu memberi hak kebebasan memilih bagi setipa orang dari generasi ke generasi, sehingga terserah mau percaya yang mana untuk diyakini.

Dengan demikian sesungguhnya bagi orang yang berpikiran masih netral / orang Mu'min, masalah Isa (nabi pembawa Injil / figur Yesus) telah disalibkan ataupun tidak disalibkan hal itu tidak ada untungnya bagi yang bersangkutan karena tidak membaca Injil !
Oleh karena itu peristiwa penyaliban Yesus Kristus di Injil mengapa harus diperdebatkan



Di Ingatkan sekali lagi!
Al Quran diturunkan pertama hanya kepada rasul Muhammad agar diberitakan kepada para pengikutnya dengan tujuan supaya tahu duduk persoalan peristiwa penyaliban yang sudah terjadi 600 tahun yang silam.
Bahwa sejak awal dizaman itu sebelum ada Al Quran hanya orang-orang keturunan Yahudi saja yang memperselisihkan tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu! 
Yaitu keturunan Yahudi yang percaya kepada Yesus mengatakan: "Sesungguhnya kami telah membunuh", sedangkan keturunan Yahudi yang kafir kepada Yesus mereka mengatakan "diserupai".
Itulah makna yang hakiki dari isi  Al Quran surat 4:157 


Jadi sampai saat ini kalau masih ada orang memperdebatkan masalah penyaliban setelah membaca Al Quran, maka isi pikiran orang tersebut bisa diterka:
Apakah orang tersebut termasuk mendukung / pro terhadap ucapan Yahudi  " yang percaya terhadap Yesus / Isa" atau orang tersebut termasuk mendukung / pro kepada ucapan Yahudi  "yang kafir kepada Yesus / Isa".

Jadi apakah sekarang anda termasuk orang yang mendukung asal usul keturunan Yahudi yang kafir kepada Yesus?

Oleh karena itu para pembaca Al Quran sudah diingatkan bahwa Al Quran nanti menjadi penyesalan bagi orang kafir di akhirat ! Tersirat di Q.69:50.

Q.69:50, yaitu; Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar  menjadi  penyesalan  bagi  orang-orang  kafir  (di akhirat)

Sekarang timbul pertanyaan makna dari ayat tersebut:
Siapa yang tergolong kafir yang menyesali Al Quran di akhirat nanti ?

Jawabnya: Karena "Allah Maha Adil", maka tidak akan mungkin orang-orang yang tidak tahu menahu tentang Al Quran menyesalinya !

Jadi hanya semua orang Mu'min / Islam saja yang menyesali Al Quran karena kitab mereka.
Hal itu tidak diherankan karena sejak awal para pengikut Muhammad telah meremehkan Al Quran, seperti sudah tertulis di Q.25:30.

Q.25:30, yaitu;
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini suatu yang tidak diacuhkan".

Sekalipun orang Mu'min/Islam setelah membaca Al Quran surat 69:50, tetap menyatakan bukan orang Mu'min / Islam yang menyesali Al Quran, berarti orang yang bersangkutan telah "mendustakan" ayat-ayat Al Quran yang isinya menyatakan bahwa "Allah Maha Adil !"





Tulisan ini bertujuan:

Supaya umat Kristen
jangan merasa terusik
dengan adanya ayat dalam Al Quran yang
menyinggung peristiwa penyaliban
terhadap sosok nabi pembawa Injil.
Dan umat Mu’min / Islam
jangan mengusik
tentang peristiwa penyaliban
Yesus Kristus
yang tertulis di dalam Injil,
dan  sudah terjadi 600 tahun
sebelum Al Quran diturunkan.

Karena jelas: Ayat 4:156-157 isinya membuktikan
bahwa peristiwa penyaliban terhadap sosok nabi
yang berhubungan dengan Injil masih juga
dipertentangkan / diperdebatkan
oleh mereka yang
percaya  vs  yang menyangkal!





Hal ini yang harus disadari !

Jadi jelas Al Quran tidak bertentangan dengan Injil
dalam hal penyaliban yang telah terjadi dimasa lalu.

Dimana kitab Injil merupakan
kisah nyata tentang peristiwa penyaliban
Yesus Kristus (yaitu nama asli tokoh yang disalib)
dan kitab Al Quran (Q.4:157)  isinya menjelaskan
bahwa:
kisah nyata tentang peristiwa penyaliban terhadap
"tokoh asli" nabi pembawa Injil yang
sudah terjadi 600 tahun yang lalu masih diperdebatkan
antara "mereka yang percaya dan disangkal
oleh mereka yang kafir"
terhadap tokoh asli  yang disalib !

Jadi kalau sekarang peristiwa penyaliban Yesus Kristus
masih juga disangkal oleh sebagian orang mu'min,
penyebabnya adalah hanya pikiran pribadi yang
bersangkutan, karena sudah di dasari adanya unsur yaitu:
antipati atau penolakan bahkan
ada rasa kebencian tanpa ada sebabnya
terhadap nama asli tokoh yang disalib,
yaitu nama: Yesus Kristus.

Sehingga tanpa sadar maupun sadar menjadi ikut-ikutan
tidak mau mengakui bahwa Yesus Kristus telah disalib !




Harus di pahami!

Ket:
Suku kata Mereka dalam ayat tersebut (Q.4:157) menggambarkan orang-orang  di zaman itu adalah (minoritas) keturuna yahudi yang percaya dan ada pula (mayoritas) yang menyangkal/kafir.
Sedangkan mereka yang percaya adalah mayoritas dari keturunan (saksi hidup) yahudi yang berasal dari Nazaret, sehingga disebut kaum Nasrani
Jadi sebutanNasrani”: untuk kaum yang percaya Yesus “Kristus dijazira arab di zaman itu yang menyangkut  dengan nama daerah "Nazaret".
(Kaum "Nasrani" pertama dikenal sebagai penentang adat istiadat Yahudi dimasa itu)

Mengapa sekarang kaum Nasrani siapaun orangnya di seluruh dunia disebut Kristen apapun kelompoknya?
Sebab mereka adalah orang-orang "pengikut" ajaran Yesus “Kristussehingga disebut Kristen apapun kelompoknya.
Hal itupun sudah di jelaskan secara tersamar dalam Al Quran, Q. 3:55 yaitu pengikut Isa (nabi pembawa Injil), jadi tidak lain adalah pengikut ajaranKristus
hingga hari kiamat.

Dengan demikian sejak ayat tersebut (Q.3:55) diturunkan, maka tidak layak lagi kalau sekarang orang "Kristen" masih disebut "Nasrani", karena mereka bukan keturunan dari "Nazaret"


Oleh karena itu sebutan "Nasrani" hanya untuk di wilayah jazira arab dizaman itu saja!
Jadi tidak diherankan kalau sampai hari ini hampir semua orang Mu'min / Islam  masih ada yang menyebut kaum Kristen adalah "Nasrani", sebab mereka tidak pernah membaca Injil sehingga tidak tahu asal usul dari sebutan suku kata: "Nasrani"!





Q.3:55

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".








Catatan : Anda pasti tahu sifat manusia pada umumnya;
Kalau ada orang awalnya tidak suka terhadap seseorang
sehingga orang tersebut membenci/ menghujat dll.
Maka orang tersebut ujung-ujungnya sedikitpun tidak akan
mau percaya kebenaran yang ada pada orang yang dibencinya !






Ringkasan / kesimpulan tentang kisah penyaliban di Al Quran.


Jadi sungguh jelas isi Al Quran surat 4 ayat 157 dan 156, dalam ayat tersebut hanya ada dua kubu yaitu yang percaya dan yang kafir, sedangkan pembaca (kaum Mu’min) diluar kubu tersebut sehingga jelas pada posisi netral !

"karena ucapan mereka", jadi mereka dalam ayat tersebut hanya orang-orang Yahudi yang berselisih paham yaitu antara keturunan Yahudi yang percaya dengan Yahudi juga yang tidak percaya / disebut kafir.

Oleh karena itu tergantung pembaca Al Quran untuk memilih salah satu dari ucapan mereka ! Apakah mau ikut ucapan mereka Yahudi yang percaya penyaliban 600 tahun sebelum ada Al Quran  (mereka Yahudi yang percaya penyaliban berkata : "sesungguhnya kami telah membunuh"), atau mau ikut ucapan mereka Yahudi yang tidak percaya (mereka Yahudi yang tidak percaya / kafir terhadap penyaliban masa lalu berkata: "diserupai”).

Dengan demikian terserah pembaca yang menyimak ayat tersebut, sebab dari awalnya sebelum Al Quran diturunkan bahwa yang meributkan tentang peristiwa penyaliban adalah mereka orang-orang keturunan Yahudi saja,
jadi untuk apa kita ikut-ikutan mereka!

Kalau kita ikut mengatakan: "tidak disalib" artinya kita ikut dukung Yahudi yang kafir, dan kalau kita mengatakan: "disalib" berarti kita mendukung keturunan saksi hidup  Yahudi yang berasal dari daerah nazaret (tempat awal masa kehidupan Yesus Kristus) yaitu orang-orang yang disebut Nasrani dizaman itu atau sekarang disebut kaum Kristen apapun kelompoknya.

Jadi mulai dizaman itu (600 tahun setelah zaman/era Yesus Kristus) kitab Al Quran merupakan kitab yang hak dari Allah untuk diberikan hak kebebasan kepada umat manusia yang berserah diri kepada Allah (orang Mu’min) yaitu orang-orang yang berpikiran “netral” / tidak berpihak kepada  Yahudi kafir  ataupun kaum Nasrani, untuk memilih mana yang benar diantara keduanya ?

Oleh karena itu apapun hasil pilihan pribadi para pembaca Al Quran  akan "sempurna" karena tanpa paksaan !

Dengan demikian kitab Al Quran adalah kitab yang “sempurna” untuk menghasilkan pendapat setiap pembaca yang mengkajinya, baik itu percaya ataupun ikut menyangkal !

Ingat sekarang terserah anda setelah membaca Al Quran mau mengikuti yang mana?



Jadi karena Allah Maha Tahu maka di zaman itu diturunkannya ayat tersebut Q.4:156 & 157 untuk membenarkan peristiwa penyaliban terhadap nabi pembawa Injil, hanya saja caranya menceriterakan keadaan / situasi dimana semangkin maraknya isyu yang beredar akibat ucapan yang keluar dari mulut orang kafir yang mempunyai penyakit dalam hatinya, ucapan mereka : "nabi pembawa Injil tidak disalib tetapi diserupakan".

Dimana mereka itu adalah keturunan yang dari leluhur nya dulu memang sudah kafir terhadap Yesus Kristus, sehingga mereka (dizaman itu) tergolong orang-orang yang tidak mau membaca Injil Kristus.

Oleh sebab itu Al Quran di Q.4:156-157 menegaskan kembali bahwa: dari awalnya saja mereka sudah kafir terhadap Isa (nabi pembawa Injil / Yesus) pasti mereka tidak mau membaca Injil, jadi hati dan pikiran mereka pasti ragu-ragu sehingga tidak yakin Yesus Kristus disalibkan, hanya mengikuti prasangka belaka saja tentang kisah penyaliban Yesus Kristus dimasa silam, yang diceritakan dengan menggunakan NAMA "Isa" dalam Al Quran sebagai nabi pembawa Injil !

Sebab kalau memakai nama aslinya "Yesus" pasti tidak akan mungkin dibaca, karena mayoritas di zaman itu hampir semua orang sudah punya rasa antipati dengan nama tersebut.
.
Kalau dilihat dari sejarah di zaman itu, dimana Rasul Muhammad orang yang pertama menerima ayat tersebut sehingga isi Q.4:156-157 sangat "masuk akal", sebab diwaktu ayat tersebut diturunkan belum ada "kitab" Al Quran berarti NAMA "Isa" belum dikenal dan belum ada kelompok Islam pengikut rasul Muhammad (karena belum ada kitab hadits), yang ada dimasa itu hanya kaum Nasrani, kaum Yahudi dan kaum Mu'min ( kaum berserah kepada Allah / kaum netral belum mengenal Yesus) serta kaum musyrik.
Sehingga jelas bahwa mereka dizaman itu (sebelum Al Quran diturunkan) yang disebut "kafir" yaitu mereka yang menolak / kafir terhadap NAMA Yesus Kristus yang sudah tertulis di Injil, jadi  nama Isa jelas belum dikenal mereka!
Dengan demikian diwilayah Al Quran diturunkan (dizaman itu) "mereka yang disebut kafir" adalah mayoritas orang-orang keturunan Yahudi pemegang kitab Taurat, yang mempunyai rasa dengki terhadap kisah penyaliban Yesus Kristus 600 tahun silam yang sudah ada tertulis di Injil.

Oleh karena itu mereka mayoritas keturunan Yahudi
(dizaman itu) tidak suka akan kehadiran Al Quran,
(contoh saja, Q.4:156-157) karena isinya bermakna:
"sindiran" terhadap mereka yang kafir kepada Yesus
(sebab dalam ayat tersebut disinggung hanya orang yang kafir saja terhadap sosok nabi pembawa Injil "yang berkata diserupai !")
Hal inilah yang tidak dipahami oleh kita sekarang yang membacanya.




Jadi ayat tersebut (Q.4.156-157) diturunkan
bertujuan "memberikan peringatan"
kepada semua pengikut Rasul Muhammad
(dari mulai pengikut yang pertama hingga hari ini)
supaya jangan sampai tertipu oleh
" karena ucapan mereka" yang kafir terhadap Isa /nabi pembawa Injil / dengan kata lain kafir kepada "Dia, Yesus Kristus" !



.
Kenyataannya hampir semua orang Mu'min / Islam walaupun tidak mau membaca Injil (karena berbagai macam alasan tanpa bukti yang sah), mengapa ikut-ikutan mengatakan: Yesus Kristus (yang tertulis di Injil) "tidak pernah disalibkan !
Dengan demikian pendapat tersebut seperti yang sudah ditegaskan dalam Al Quran itu sendiri di surat 4:157 yaitu; bagaikan "ucapan mereka" yang kafir terhadap Isa / nabi pembawa Injil / Yesus Kristus !
.
Hal itulah yang membuat rasul Muhammad bersedih, seperti sudah tertulis di Q.5:68 pada kalimat terakhir, sebab umatnya tidak mau membaca Injil dengan berbagai macam alasan tanpa bukti yang sah.
Oleh karena umatnya banyak yang tidak mau membaca Injil Kristus, sehingga umatnya dari generasi-kegenerasi menjadi bertambah banyak yang menyangkal peristiwa penyaliban terhadap "Yesus Kristus" yang sesungguhnya terjadi 600 tahun sebelum ada Al Quran, dengan demikian kekafiran bertambah-tambah seperti sudah diprediksikan dalam surat Quran 5:68 ( prediksi dalam surat 5:68 tersebut sudah nyata terjadi sampai dengan hari ini, hal itupun tidak diherankan karena Allah Maha Tahu apa yang terjadi setelah Al Quran diturunkan!).
Oleh karena itu dalam surat tersebut Allahpun menghibur rasul Muhammad supaya jangan bersedih terhadap orang-orang yang menjadi kafir / menolak kebenaran tentang peristiwa penyaliban nabi pembawa Injil sebelum ada Al Quran !


Q.5:68 ; Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.


(Ket: Orang disebut kafir yaitu orang yang menyangkal / menolak "akan kebenaran" setelah diberi tahu , jadi kalau selama hidupnya orang tersebut tidak pernah tahu / mendengar tentang "kebenaran", maka orang tersebut tidak bisa dibilang kafir karena apa yang mau disangkal kalau tidak pernah tahu atau mendengar!)


Coba kita pikirkan kalimat terakhir di Q.5:68:
Kalau "Allah Maha Adil", maka tidaklah mungkin Al Quran
diturunkan membuat "durhaka atau kafir" bagi semua manusia
yang tidak pernah membaca atau tidak menyentuhnya !




Oleh karena itu tanpa membaca Injil dengan benar maka pembaca Al Quran tidak akan pernah tahu maksud dari ayat di Q.5:156-157 yang menyinggung "ucapan mereka yang kafir" terhadap masalah penyaliban nabi pembawa Injil.
Bahkan tanpa membaca Injil maka Al Quranpun bisa menjadi bumerang bagi yang membacanya yaitu ikut-ikutan membantah / menyangkal / kafir / tidak percaya kepada Yesus Kristus bahwa "Dia" telah disalibkan dan mati kemudian "bangkit hidup kembali" dari antara orang mati !
Keadaan tersebut tidak diherankan sebab walaupun Al Quran di Q.19:33-34 sudah menegaskan kebenaran tentang kebangkitan nabi pembawa Injil, akan tetapi pembaca Al Quran tetap membantah kebenaran tersebut (penjabaran dibawah).


Oleh karena itu surat Q.4:156-157 memberikan kebebasan akan kesimpulan yang diambil oleh setiap pribadi pembaca, dan sekaligus cermin gambaran isi hati yang bersangkutan, karena : Tidak percaya atau percaya bahwa nabi pembawa Injil telah disalib adalah kunci dasar kafir atau tidaknya kepada nabi tersebut, bahkan kepada "tokoh yang sesungguhnya" yaitu "Yesus Kristus".
Hal inilah yang harus dipahami !
.
Oleh karena itu pemahaman akan makna ayat di Q.4:156-157 merupakan
"kunci awal percaya atau tidak" terhadap isi dari pada Injil Kristus!


Jadi jelas kalau kita mau tahu dengan rinci tentang peristiwa penyaliban dimasa silam terhadap “nabi pembawa Injil” maka kita harus membaca “Injil Kristus” yang ditulis oleh saksi hidup yaitu para muridNya.

Sedangkan kalau kita mau tahu siapa saja orang-orangnya yang memfitnah dengan kedustaan besar mengatakan bahwa nabi pembawa Injil tidak disalib?, maka kita harus membaca “Al Quran”, sebab jelas di dalam Al Quran secara rinci menjabarkan bahwa orang yang kafir terhadap “Isa” (nabi pembawa Inji) yang telah memfitnah yaitu dengan ucapan mereka : “Isa tidak disalib tetapi diserupai !”




Dengan demikian tidak diherankan kalau di dalam
Al Quran para pembaca dihimbau untuk membaca Injil !
Supaya tahu duduk persoalan yang sesungguhnya (tersirat di Q.5:68)

Oleh karena itu terjadinya pertentangan sudut pandang
penyaliban akibat dari ketidak telitian dalam mengkaji
dan tidak mau melaksanakan himbauan di Q.5:68,
supaya tahu bahwa tujuan akhirnya sama ? :
kisah di Injil Lukas 24:51; bahwa Yesus naik ke Sorga!
dan cerita di Al Quran; (Q.4:158) Isa diangkat Allah!

Jadi tidak heran pula kalau para pembaca Al Quran yang tidak teliti dan tidak membaca Injil, akan mudah terlena pada saat membaca ayat 157 di surat 4 !, sehingga ikut berpendapat bahwa “nabi pembawa Injil tidak disalib tetapi diserupai”.




Ket:
Mohon maaf sebelumnya bagi semua kalangan, saran untuk lebih mudah dimengerti tentang penyaliban di Al Quran surat 4:156 & 157, maka dalam membaca ayat tersebut suku kata "mereka" ("orang kafir") coba kita baca digantikan dengan suku kata "Yahudi" dan untuk nama "Isa" coba kita ganti dengan nama "Yesus", dengan demikian jelas artinya bahwa :"karena kekafiran Yahudi terhadap Yesus dan karena ucapan "Yahudi", maka ceriteranyapun "bagi Yahudi !" saja, berarti bukan bagi Allah Yang Maha Tahu !

Kesimpulannya oleh karena dizaman itu "Yahudi" sudah kafir / tidak percaya / tidak yakin terhadap Yesus, maka jelas dengan dasar tersebut kaum Yahudi (mereka) dalam ayat tersebut pasti tidak yakin bahwa yang dibunuh / disalib itu "Yesus !", oleh karena itu "Yahudi" (mereka) selalu membantah tentang penyaliban Yesus!

Jadi makna ayat tersebut merupakan suatu peringatan kepada semua orang terutama di jazira Arab di zaman itu, dan oleh karena ayat tersebut tetap berlaku hingga kini, jadi tanpa kita sadari ayat tersebut sebagai peringatan juga bagi kita dan semua orang di dunia saat ini, agar waspada jangan terpengaruh tipu muslihat orang yang kafir terhadap Isa (gambaran Yesus Kristus)
Jadi jelas kalau kita perhatikan Q.4 156 walaupun isinya singkat tetapi diakhiri dengan tanda koma, yang berarti masih berhubungan erat dengan ayat berikutnya, dimana ayat berikutnya diawali kata-kata pembuka : dan “karena ucapan mereka”, hal ini ber tujuan agar pembaca lebih mudah dan jelas membedakan bahwa isi ayat 157, Jibril menyampaikan “ucapan mereka yang kafir”, intinya : di serupa kan dengan Isa “bagi mereka !”

Dengan demikian jelas kata-kata “bagi mereka” menunjukan cerita tersebut tidak bisa di pertanggung jawab kan kebenarannya, karena sumbernya dari mereka yang kafir terhadap Yesus Kristus di zaman itu , dan mereka bukan saksi hidup, sebab disaat Al Quran diturunkan peristiwa penyaliban sudah 600 tahun berlalu.

Oleh karena itu di dalam Al Quran selalu diulang-ulang penjelasan bahwa "Allah Maha Tahu", jadi jelas sekali karena Al Quran Wahyu Allah, dimana "Allah Lebih Tahu" tentang kisah peristiwa penyaliban Yesus Kristus 600 tahun yang silam dibandingkan "mereka yang kafir" itu.

Dimana mereka adalah keturunan dari orang-orang Yahudi yang leluhurnya tidak mau mengakui Yesus Kristus berasal dari Allah.

Hal itu tergambar dalam Al Quran, bahwa Roh Allah menjelma jadi manusia, di Q.19:17 yaitu : maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Oleh karena itu Al Quran dengan memakai nama "Isa" menjabarkan kembali tentang gambaran sumber terbentuknya raga dari "Yesus Kristus" ke dunia, yang di ceritakan sangat gamblang dengan kata "menjelma", hal itu untuk menjelaskan mengapa tertulis di Injil bahwa Yesus sebagai anak manusia di saat mati dikayu salib (maka ditegaskan dengan kata lain bahwa Dia adalah "Jelmaan" Roh)


Ket: Sebutan "Anak Allah" bukannya Allah melahirkan Yesus, tetapi Yesus satu-satunya anak manusia dibumi ini yang datang "berasal" dari Allah, sehingga di kenal dengan sebutan "Anak Allah".

Contoh: Sering kali kita memanggil seorang anak manusia sesuai dengan daerah atau kota atau negara asalnya anak tersebut datang.



Satu hal yang tidak diperhatikan oleh hampir semua orang.


Disaat Yesus Kristus diatas palang salib maka Ia berseru:

Eli, Eli, lama sabakhtani ?”
Artinya: AllahKu, AllahKu,  mengapa  Engkau  meninggalkan  Aku?

Seruan tersebut bukan sekedar asal seruan tetapi mengandung makna “isyarat” yang harus dipahami. Bahwa saksi hidup pada peristiwa penyaliban dizaman itu, bahkan kitapun yang membaca kisahNya sekarang agar berpikir dengan kesimpulan: disaat Yesus Kristus disalib ragaNya tetap berada di tiang salib sedangkan yang ditinggal kan oleh Allah adalah “RohNya”.

Jadi jelas bahwa Yesus sebelum disalibkan, sewaktu masih hidup sebagai manusia”  bahwa  Roh Allah/ RohulKudus telah bersemayam di dalam diriNya!
Oleh karena itu apapun perkataan yang keluar dari mulut Yesus Kristus adalah suara Allah.

Contoh: Sampai hari ini apabila seorang manusia kerasukan “roh syaitan” maka segala perkataan yang keluar dari mulut orang tersebut adalah suara syaitan / kalimat yang keluar dari orang kerasukan “roh syaitan” adalah kemauan syaitan.

Dengan demikian jelas  pada saat  Yesus Kristus  hidup di dunia sebagai manusia karenaRoh Allahmendominasi diriNya, sehingga segalakalimat”  / “sabda yang diucapkan dalam khotbahNya adalah Suara Allah / kalimat-kalimat Allah!”.

Oleh karena itu seruanNya merupakan “Isyarat” bahwa diriNya adalah:
Manusia Illahi / Ilaahin naas(tersamar di Q.114:3)
Hal itulah yang harus dipahami oleh semua manusia di bumi !

Jadi tidak heran kalau Kitab Injil disebut Firman Allah”.
Sebab isinya adalah kumpulan sabda Yesus Kristus, karena “Dia” merupakan corong suara  Allah jadi yang dicatat oleh para murid-muridNya adalah kalimat / Firman Allah yang keluar dari mulut Yesus Kristus.

Jadi bisa dikatakan bahwa semua orang kristen yang sering membaca Injil dan menghayatinya maka orang tersebut tergolong “Kaya Akan FIRman”.

Oleh karena itu Al Quran menegaskan kembali secara tersamar, siapa sesungguhnya manusia Yesus Kristus itu yang terlebih dahulu tertulis di Injil ! (Tersirat di dalam Al Quran Q.4:171,
bahwa Isa adalah kalimat-Nya dan roh daripada-Nya”).

Maka disimpulkan bahwa Isa yang tertulis di Al Quran adalah figur dari Yesus Kristus diwaktu sebagai manusia dengan sebutan  “nabi pembawa Injil”, karena segala perkataan yang keluar dari mulutnya mengandung berita gembira / kabar baik ( yang disebut "Injil").
Jadi jangan salah sangka yaitu: bukannya kitab Injil yang dibawa-bawa oleh Isa / Yesus ! 






Jadi yang perlu dipahami :



Bahwa penciptaan Isa (figur Yesus) merupakan penciptaan ulangan yang kedua kalinya yaitu menciptakan manusia tanpa bapak duniawi. Hal itu disebabkan penciptaan pertama “Adam” telah gagal karena adam telah tergoda syaitan sehingga berdosa hingga keturunannya sampai saat ini.



Oleh karena itu begitu pentinggnya Allah menciptakan kembali yang kedua kali manusia tanpa bapak duniawi seperti penciptaan pertama manusia Adam , agar terwujud kembali ke dalam dunia seorang manusia suci dari antara manusia-manusia yang sudah ada dan telah berdosa karena semua manusia berasal dari keturunan pertama / Adam.

Jadi begitu pentingnya kehadiran "seorang manusia suci" ke dalam dunia ini  yaitu "Isa anak Maryam" yang sudah dikenal sebelum Al Quran ada yaitu dengan nama Yesus Kristus, sebab jelas di Q.53:38 sudah ditegaskan: bahwasannya seorang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,.... . 



Dengan demikian 600 tahun kemudian kitab Al Quran memperingati manusia agar memperhatikan sebagai bahan pembelajaran terhadap maksud Allah melakukan penciptaan kedua setelah adam.

Hal itu supaya manusia paham maksud dari penciptaan Isa (figur Yesus) menjadikan seorang yang suci agar dapat memikul dosa orang yang percaya kepadanya (Q.53:38), sehingga orang-orang yang percaya kepadanya tidak menjadi orang-orang yang merugi di hari kiamat, tersirat di Q.56:62.





Q.56:62. yaitu,  Dan sesungguhnya  kamu  telah  mengetahui  penciptaan  yang pertama,  maka mengapakah  kamu  tidak  mengambil  pelajaran  untuk  penciptaan  yang  kedua ?




Maka bisa disimpulkan bahwa Q.19:17 secara tersamar mendukung apa yang tertulis di dalam Injil Yohanes 12:45.
Dimana Yesus Kristus waktu berada di alam zhahir/dunia nyata telah berkata :




yaitu: dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.



Oleh karena dari awal leluhur mereka tidak mau mengakui asalNya Yesus, akan tetapi kenyataannya Yesus membuktikan diriNya kembali ke Surga setelah bangkit dari kuburNya (tergambar di Q.19:33), dengan demikian leluhur mereka mengarang cerita bahwa "Yesus tidak disalib tetapi diserupai", hal itu dipertegas tergambar di Q.4:156-157 bahwa cerita tersebut hanya versi mereka saja, ( jadi karena "ucapan mereka" jelas hanya "bagi mereka").

Ket:

Jadi selama ini apakah kita mau percaya begitu saja ?, sehingga dengan mudahnya kita menelan mentah-mentah ucapan mereka !

Itulah sebabnya kalau kita tidak mau membaca Injil dengan teliti, sehingga kita menyangkal bahwa Yesus Kristus disalib !, apakah kita tidak sadar akan tipu daya dari mereka yang kafir terhadap Yesus Kristus, sejak zaman itu ?



Dengan demikian jelas, itulah sebabnya mengapa sejak awalnya Kitab Suci Al Quran harus di kaji bukan sekedar asal dibaca saja !


Cerita tersebut bertujuan untuk membantah kebangkitan Yesus dari kuburNya, hal itu jelas di dalam Injil dimana Yesus wafat sebagai anak manusia di kayu salib.
.
Sebab kalau kita lihat sejarah dalam Injil, maka dari makna ayat Q.4:156-157 bisa terjawab akan tipu muslihat orang kafir yang bertujuan supaya orang - orang di zaman itu terpengaruh agar menyangkal Kebangkitan Yesus Kristus dari kuburNya.


Sehingga orang-orang di zaman itu yang terpengaruh mereka berpendapat: bagaimana mungkin ada kebangkitan sedangkan disalib saja tidak pernah !

Oleh karena di ayat selanjutnya Q.4:158, yaitu: tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat 'Isa kepadaNya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
.
Ayat tersebut (Q4:158) isinya jelas hanya memberikan penegasan secara ringkas, bahwa 'Isa diangkat Allah saja (isi yang hakiki dari Q.4:158 : " bukan diangkat untuk diselamatkan agar terhindar dari penyaliban ")..



Jadi karena ringkasnya isi dari ayat selanjutnya (Q.4:158), maka sekarang ini banyak para penafsir yang tidak mau membaca Injil Kristus berpendapat bahwa nabi Isa dihindari dari penyaliban, dengan demikian secara tidak langsung orang tersebut tanpa disadarinya telah mendukung "ucapan orang-orang yang kafir terhadap Yesus" di zaman dulu, seperti di Q.4:157.
Yaitu bermaksud membantah kebangkitan Yesus Kristus.
.
Ironisnya tidak ada satu ayatpun dalam Al Quran yang menyatakan dengan tegas bahwa "Allah mengangkat nabi Isa untuk dihindari dari penyaliban", jadi jelas kalau ada yang berpendapat seperti itu berarti sudah menyimpang dari isi Al Quran yang sebenarnya.
.
Akan tetapi hal tersebut tidak mengherankan sebab sekarang ini keadaan dari pendapat orang-orang tersebut sudah diprediksikan sejak Al Quran diturunkan di zaman itu.
.
Prediksi tentang orang-orang tersebut terdapat dalam Firman Allah di Q.22:3, yaitu :Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang sangat jahat.
.
Prediksi yang ada di ayat tersebut membuktikan bahwa "Allah Maha Tahu" akan hati setiap orang yang hidup di zaman Al Quran diturunkan maupun hati setiap orang dimasa yang akan datang yaitu sekarang ini.


Jadi jelas keadaan sekarang bahwa pendapat orang-orang yang mengatakan Yesus Kristus tidak disalib, akibat tanpa membaca Kitab terdahulu yang merupakan Ilmu Pengetahuan sejarah, sebab yang dimaksud Ilmu Pengetahuan dalam ayat tersebut sudah pasti yang berhubungan dengan Kitab-kitab sebelumnya, dan yang lebih penting dalam ayat di Q.22:3 pada kalimat terakhir, tergambar bahwa sekarang ini mereka tanpa sadar di halangi ghaib, sehingga terpengaruh kekuatan ghaib jahat yaitu "roh dajal /syaitan", oleh sebab itu setiap mau membaca Al Quran dianjurkan / hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk (Q.16:98), (di luar Al Quran tidak dianjurkan).


Ket:
Minta perlindungan kepada Allah disaat mau membaca Al Quran adalah mutlak, sebab Al Quran diturunkan untuk orang-orang Mu'min, yaitu orang yang berserah diri kepada Allah tetapi belum mengenal siapa Tuhanmu sehingga belum bertawakkal kepada Tuhan yang ditakuti syaitan !
Hal tersebut jelas tertulis di ayat selanjutnya yaitu Q.16:99.
Q.16:99 ; Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
.
.
Kami mau ingatkan bahwa hal itu sudah ditegaskan di Q.22:8 yaitu: Dan diantara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.



Oleh karena ayat tersebut (Q.22:8) ada di dalam Al Quran yang kita baca, maka jelas makna dari ayat tersebut dengan tersamar agar orang harus membaca Injil, sebab hal itu sangat beralasan dengan ditegaskannya di Q5:46 bahwa Kitab Injil di dalamnya ada petunjuk dan cahaya..
.
Maka dapat disimpulkan karena Allah Maha Tahu bahwa di tempat asalnya jazirah Arab dimana Kitab-kitab Allah diturunkan, walaupun orang-orang di zaman itu sudah banyak yang membaca Injil, tetapi karena terpengaruh "ucapan mereka orang-orang kafir" sehingga masih banyak pula orang-orang di zaman itu yang meragukan akan kebenaran Injil yang telah di bacanya.
.
Oleh karena Allah Maha Tahu, maka Al Qur-an diturunkan, dengan ayat-ayatnya yang tegas dan cukup ringkas saja, sehingga Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan (di pertegas di Q.36:69).
.
Agar semua orang (di jazira Arab) yang membaca Al Quran (Q.19:97), dapat mudah mempelajari kembali dengan menggunakan akalnya terutama cerita tentang nabi Isa (gambaran Yesus) supaya tidak terpengaruh dari tipu muslihat orang-orang yang kafir terhadap Yesus di zaman itu.
.
Hal itu jelas terlihat bahwa ayat-ayat dalam Al Quran tentang nabi Isa lebih mendominasi dibandingkan dengan ayat-ayat tentang nabi-nabi yang lainnya.



Dengan demikian jelas tujuan dari Al Quran diturunkan sejak itu agar semua orang dapat mempelajari sendiri dengan mengkaji nya, sehingga tidak perlu membahas tentang nabi Isa (gambaran Yesus dari sudut pandang sebagai sosok manusia) dengan orang lain, agar tidak terjadi perbantahan "hanya karena ucapan" yang berakibat pertikaian.
.
.
Oleh karena itu apabila kita sudah memahami dasar dari penjabaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari Al Quran diturunkan sejak zaman itu sungguh jelas "bersifat Netral" (universal) untuk menciptakan suasana " DAMAI ", supaya orang-orang awam di zaman itu yang masih bimbang tentang kisah Yesus Kristus, janganlah langsung percaya begitu saja terhadap ucapan orang yang kafir dan maupun orang yang sudah percaya (Nasrani), akan tetapi jalan keluar yang paling bijak untuk "menghindari perbantahan" yaitu pelajari dahulu dengan mendalam Kitab Al Quran secara "Pribadi", dengan teliti dan sangat hati-hati serta dilandasi fitrah diri disaat membaca Injil seperti telah dianjurkan pada ayat Q.5:68.
.
Setelah itu terserah, mau memilih untuk percaya yang mana?
.
"Penjelasan" : Dimana kebangkitanNya merupakan

pembuktian diriNya, agar semua orang akan sadar
"Siapa Dia sesungguhnya !" .
.
Jadi kebangkitanNya (secara total / raga)

salah satu bukti bahwa Dia Manusia Illahi yang mempunyai Kodrat ke Illahi-an, dengan demikian Dia dapat melakukan apa saja terhadap dunia dan isinya !
.
Hal tersebut sudah dikatakanNya saat Dia hidup di dunia sebagai anak manusia, terdapat di Injil Yahya.14:11, dimana makna dari ayat Injil Yahya.14:11 tersebut menyimpulkan bahwa diwaktu Yesus masih dialam dunia, segala mujizat besar yang dilakukanNya supaya orang-orang berfikir akan perbuatan itu, sehingga setiap orang menjadi ingin tahu" Siapa Dia sebenarNya ?", karena segala mujizat besar / nyata tersebut tidak pernah dilakukan oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia ini, penjelasan hal tersebut tergambar dengan tersamar di Q.3:49.



Dimana mujizat di ayat tersebut dijelaskan seizin Allah, hal itu supaya pembaca berpikir akan tanda-tanda mujizat yang dilakukanNya, mengapa tidak ada nabi siapapun dalam Kitab Suci yang di izinkan Allah untuk melakukan mujizat besar tersebut ?
Jadi siapa “Dia” itu ?
.
Oleh karena Q.4:157 kisah tentang Nabi Isa, maka jelas ayat tersebut termasuk samar-samar “Mutasyabihat

Jadi kalu kita tidak hati-hati mengkaji nya maka kita akan mengikuti “ucapan mereka yang kafir” itu .

Oleh sebab itu Al Quran menegaskan di Q.3:7 bahwa ayat "Mutasyabihat" dapat menimbulkan Fitnah.


Sedangkan di Q.19:33. di ayat ini hanya menggambarkan pengakuan Isa dibangkitkan kembali, dan ayat 34 menjelaskan orang akan berbantah-bantahan tentang kebenarannya, ayat 34 ini gambaran Injil Lukas.2:34.



Q.19:33 - Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali".
.
Q.19:34 - Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.


Jadi makna dari ayat-ayat tersebut bertujuan agar pembaca Al Quran menilai kebenaran yang manakah tentang gambaran peristiwa penyaliban terhadap nabi pembawa Injil / Yesus Kristus dimasa silam ?
Dengan demikian ayat-ayat tersebut bermakna sebuah pilihan, apakah kita mau percaya nara sumbernya yaitu pengakuan dari "Isa" sendiri yang tersirat Q.19:33?, dan apakah kita mau percaya kebohongan karena ucapan mereka yang kafir yang tersirat di Q.4:157 ?

Itu’lah ayat-ayat yang "merupakan petunjuk" yang kita dapatkan dalam Al Quran, sekali lagi diingatkan bahwa kita diberi kebebasan untuk memilih petunjuk yang benar dalam ayat-ayat Al Quran tanpa paksaan.

Oleh karena itulah setiap orang menjadi / masuk Islam tanpa paksaan juga !



Oleh karena itu kalau kita tidak memahami isi dari Q.4:157 kemudian melihat isi dari Q.19:33-34, dimana ayat tersebut termasuk “Mutasyabihat”, maka kita akan bingung sendiri, bahkan tanpa disadari akan timbul argument dengan berbagai macam alasannya untuk memaksakan pembenaran ayatMutasyabihattanpa terlebih dahulu menganalisa dengan lebih dalam lagi.
.
.
Karena “Allah Maha Tahu”, jadi tidak mengherankan kalau ayat tersebut tergolong “Mutasyabihat” sehingga dapat menimbulkan fitnah, kenyataannya hampir semua orang Mumin tanpa pernah membaca Injil, mengatakan Yesus tidak disalib !”


Sehingga Q.4:157 menimbulkan suatu dilemma dari generasi kegenerasi, terutama kebanyakan bagi mereka yang tidak mau membaca Injil / para pendengar !
.
Jadi jelas sekali, kalau pembaca Al Quran tidak pernah membaca Injil Kristus, sampai kapanpun apabila mengkaji ayat tentang Isa, maka akan mendapatkan pertentangan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya. Sebab pembaca tidak memahami Siapa Isa di Al Quran dan Siapa Yesus di Injil !
.
Oleh karena itu pada hakekatnya sosok dengan NAMA " Yesus Kristus " di Injil tidak bisa disamakan terhadap sosok NAMA "Isa" di Al Quran, akan tetapi sosok NAMA "Isa" boleh boleh saja disamakan dengan sosok figur Yesus sebab jelas tertulis dalam Al Quran bahwa "Isa dengan Injilnya" sedang Musa dengan Tauratnya !

Akan tetapi kalau kita umat Mumin menyamakan "Isa" di Al Quran dengan " Yesus Kristus " di Injil, maka tanpa kita sadari pula bahwa Al Quran telah menyatakan dengan tegas di Q.4:156-157, yaitu " mereka " adalah orang yang kafir terhadap "Isa", berarti kita harus mengakui juga bahwa " mereka " sama saja kafir terhadap "Yesus Kristus".

Jadi kalau kita berkeras untuk menyamakan "Isa" dengan "Yesus" maka dengan demikian tanpa disadari juga, bahwa kita secara tidak langsung telah mengakui sejak zaman itu yang dijuluki " orang kafir " yang tertulis dalam Al Quran yaitu orang yang kafir terhadap "Yesus Kristus
"juga!


Kalaupun kita tidak mau menyamakan Isa dengan Yesus Kristus di Injil, berarti kita telah menyangkal keberadaan kitab Injil, sebab tidak ada dalam dunia ini yang disebut Injil Isa akan tetapi yang ada Injil Kristus.
Walaupun hal itu terjadi dalam pikiran kita, maka hal itupun tidak diherankan karena tanpa kita sadari bahwa ada sesuatu kekuatan ghaib yang mempengaruhi supaya kita benci terhadap nama asli yang tertulis di dalam Injil yaitu nama Yesus Kristus !



Ket: Jadi kalaupun kita tetap berkeras tidak mau mengakui penyaliban dengan berpendapat : Isa bukan Yesus !, tetapi kita tetap mengatakan Yesus tidak disalib, berarti kita tidak mempunyai pendirian atau disebut bimbang, karena kita "memaksakan" sesuatu yang sudah kita anggap lain.
Hal inilah yang harus kita pikirkan.


Alangkah bijaknya mereka yang sudah memahami
Al Quran dan Injil berkata:


"Bukan nabi Isa yang disalib, tetapi Yesus Kristus"




Oleh sebab itu melalui ayat tersebut (Q.4:156-157) yang tergolong Mutasyabihat merupakan petunjuk yang tersamar, agar semua pembaca yang mengkaji mau berpikir supaya dapat memahami perkataan Allah yang disampaikan Jibril di ayat yang lainnya dalam Al Quran yaitu : mengapa dalam Al Quran kebanyakan tertulis orang yang kafir hanya terhadap "Tuhannya" ?

Jadi hanya orang yang mau berpikiran dengan "akalnya" yang dapat memahami semua perkataan Allah yang disampaikan Jibril tentang siapa Tuhannya yang tertulis di Al Quran.




Karena ALLAH Maha Tahu”.

 Setelah Yesus Kristus  bangkit kembali keasalNya sorga, maka Al Quran diturunkan 600 tahun kemudian bertujuan memberikan
penegasan kembali masalah penyaliban sosok "Anak Manusia Suci" 
yang selalu diperdebatkan !
(Karena yang disalib adalah nama "Yesus Kristus" dan  pada saat Al Quran diturunkan sampai sekarang bahwa nama Yesus Kristus tidak layak lagi disebut nabi!)


Maka tidak akan mungkin di dalam Al Quran tertulis dengan terus terang bahwa nabi pembawa Injil bernama Isa telah disalibkan !
Karena Al Quran bukan kisah nyata penyaliban ).


Hal itu supaya dipahami bagi setiap pribadi
masing-masing pembaca Al Quran dan agar dapat

mengambil kesimpulan tanpa paksaan

untuk menentukan siapa yang disalib ?



Karena itu selalu ditegaskan berulang-ulang di dalam Al Quran bahwa

"Allah Maha Tahu",

jadi dalam Kitab Suci apapun tidak mungkin ada kekeliruan dalam hal " Hak " atas " NAMA " siapa yang disebut, dasar dari pemahaman inilah yang tidak dimengerti oleh hampir semua orang.

Sehingga membuahkan perbantahan terus menerus antara Muslim dan Kristen.



untuk lebih jelas lihat:
http://misterisebuahnama.blogspot.com/



Ket:
Kalau kitab Al Quran menyatakan bahwa nabi Isa disalib berarti:
Allah Bukan Maha Tahu
Sebab kalau nama Isa di Al Quran disalib berarti memfitnah kisah nyata dari sosok nama Yesus Kristus yang tertulis di Injil.
Oleh karena itu berulang-ulang tertulis bahwa Allah Maha Tahu !”
Maka tidak mungkin kisah dalam Al Quran menyatakan “nabi pembawa Injil” bernama Isa telah disalib, sebab 600 tahun sebelum Al Quran ada, yang disalib adalah nama asli yang sudah terlebih dahulu tertulis di Injil yaitu Yesus Kristus.

Alasan yang lebih penting harus dipahami yaitu:
Karena Al Quran diturunkan untuk mengulangi kembali kisah sekilas dari gambaran para nabi dengan kitabnya, dengan demikian secara tidak langsung Al Quran membuktikan bahwa mulai disaat itu sampai dengan saat ini memang sudah tidak layak lagi nama Yesus Kristus disebut: “nabi Yesus dengan Injilnya !”
Dengan demikian tidak diherankan kalau nama nabi pembawa Injil dalam Al Quran berubah dengan nama samaran yang disebut “Isa putra Maryam”.

Jadi kalau kita meyakini Al Quran wahyu Allah maka tidaklah mungkin ada kesalahan dalam hal yang “Hak” kepada / atas nama siapa (kisah asli) yang menyangkut dengan wewenang ke IllahianNya akan dinyatakan / diberikan !
Itulah sebabnya tidak satupun ayat Al Quran yang menyatakan bahwa nabi Isa akan datang / turun ke dunia pada akhir zaman !
Sebab yang “ber-Hak” datang adalah sosok nama yang berstatus “Tuhan”
Oleh karena itu hanya tertulis di kitab Hadits saja bahwa Isa akan turun ke-dunia pada akhir zaman, sebab keterangan tersebut hanya merupakan perkataan rasul Muhammad.

Walaupun demikian karena rasul Muhammad yang hidup di abad ke 7 tahu bahwa tokoh Injil yang sesungguhnya bernama "Yesus Kristus" yang telah diberi kuasa keIllahin atas keselamatan setiap pribadi manusia.
Jadi apabila rasul dalam sabdanya mau menyinggung sifat keIllahian dari "Tokoh pembawa Injil yang sesungguhnya", maka beliau tidak mau melakukan kesalahan, yaitu tidak mau menyebut nama "Isa" melainkan hanya menyebut dengan perkataan "anak Maryam", hal itupun supaya para pendengar berpikir siapa nama asli sesungguhnya dari "anak Maryam?"

contoh sabda rasul di kitab Hadits SHAHIH BUKHARI
no 1504: Dari Abu Hurairah r,a., katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: "Bagaimanakah keadaanmu apabila anak Maryam turun kepadamu dan menjadi imam di antara kamu".

Ket: Jelas sabda rasul kalau menyinggung kuasa keIllahian dari tokoh nabi pembawa Injil yang menyangkut pribadi manusia di akhir zaman, maka perkataannya tidak memakai kata / nama Isa!
Hal itu jelas sebab di Al Quran saja yang kita yakini merupakan Firman Allah tidak pernah menyebut nama Isa yang datang diakhir zaman tetapi menyarankan pembaca dengan kalimat "Katakanlah: Tuhan kita yang akan mengumpulkan kita semua" (tersirat di Q.34:25).

Itulah sebabnya bahwa Hadits merupakan perincian dan / atau tafsir dari Al Quran. Hadits berlandaskan Al Quran. Karena Hadits disusun setelah nabi wafat, maka dalam menilai kebenaran pemberitaan Hadits, Al Quran dipakai sebagai batu ujian.



Maka perlu kita renungkan bahwa kedua agama tersebut di ibaratkan bagaikan dua sisi roda kereta api yang terpisah jarak antara depan dan belakang, tetapi berjalan selalu searah dalam satu lintasan !
..
Dimana Kitab Injil mengisahkan peristiwa penyaliban Yesus Kristus, sedangkan Kitab Al Quran di zaman itu secara tersamar membenarkan tentang peristiwa penyaliban Yesus Kristus 600 tahun yang lalu, hanya saja dengan cara menjelaskan situasi dimana orang-orang saat itu masih banyak yang tidak yakin akan peristiwa penyaliban dimasa lalu terhadap nabi pembawa Injil (dengan memakai nama "Isa") sehingga Al Quran menekankan dengan tegas bahwa mereka yang tidak yakin itu terbilang / tergolong orang KAFIR ! Q.4.156-157.

Oleh karena itu kami ingatkan lagi, bahwa pengertian dari kesimpulan yang telah dijabarkan diatas pasti tidak dipahami oleh Anda bahkan hampir semua orang Mumin apalagi orang Kristen (karena tidak diwajibkan membaca Al Quran) !

Jadi sebenarnya kalau kita mau memahaminya, maka antara kedua Kitab tersebut (Injil & Al Quran) tidak ada yang saling bersinggungan, sebab pada dasarnya masing-masing Kitab tersebut mengisahkan / menceritakan akan peristiwa dan situasi yang terjadi sesuai dengan lintasan waktu yang dilalui.

Dengan demikian jelas dan nyata NAMA nabi Isa di Al Quran tidak akan pernah disalib, tetapi yang disalib NAMA Yesus Kristus seperti kisahNya tertulis di dalam Injil Kristus yang terlebih dahulu sudah ada, yaitu 600 tahun sebelum Al Quran diturunkan.

Maka jelas fakta dari kedua kitab Al Quran dan Injil:
"Bukan nabi Isa yang disalib, tetapi Yesus Kristus !"
.
Oleh karena itu apabila umat Kristen mengatakan "Isa" disalib, itu suatu kesalahan besar !

Begitu pula apabila umat Islam mengatakan " Yesus Kristus " tidak disalib, itu suatu kesalahan yang lebih besar lagi !
.
Kesimpulan tersebut diatas tidak pernah dimengerti oleh kedua belah pihak (Kristen dan Islam), karena hampir semua orang pada umumnya meremehkan pengertian yang hakiki akan isi dari kitab Injil dan tujuan dari Al Quran diturunkan sejak zaman itu.
Sehingga tidak memahami tentang apa yang ada di Injil dan apa maksud ayat-ayat yang ada di dalam Al Quran, oleh karena itu selalu timbul perdebatan tentang siapa yang disalib, jadi hal itu dikarenakan mereka sudah menyimpang dari relnya.

Dengan demikian hampir semua orang salah persepsi sehingga saling tuduh dan saling meragukan Kitab orang lain, jadi sekarang di akhir zaman ini kita semua tidak ubah nya seperti keadaan " mereka " yaitu orang-orang yang hidup di zaman dahulu di wilayah Al Quran diturunkan !
.
Disinilah yang harus kita ketahui tentang
" Misteri sebuah NAMA " di dalam Kitab Suci !
kalau Anda mau mengetahuinya kunjungi:
http://misterigaib.blogspot.com/
.
Mulai saat ini kami " ingatkan " ( mohon maaf ).
Bahwa semua para pemegang Kitab Suci masing-masing ( pemegang Injil dan pemegang Al Quran) hanya tahu Kitabnya saja !
.
Dimana sifat manusia:"Akulah yang paling benar !"


Akibatnya :Sekarang ini banyak manusia yang emosi akibat ter pancing oleh tipu muslihat " orang kafir di zaman dulu " sehingga kerjanya berdebat terus...terus....terus dari generasi kegenerasi tanpa henti, hanya untuk mempertahankan pendapatnya.
.
Sekarang ini tanpa sadar banyak manusia yang tertipu, karena menelan mentah-mentah sehingga termakan tipu muslihat " orang kafir di zaman dulu ", yang berakibat mereka tanpa sadar telah kafir / menyangkal Tuhannya sendiri !
.
Jadi sekalipun Pembesar / pemuka dari agama apapun kalau masih memandang bahwa kedua Kitab Al Quran dan Injil bertentangan, berarti mereka belum memahami apa yang ada dalam Kitabnya masing-masing.
Sehingga mereka masih terkecoh akan realita dari makna yang ada dalam masin-masing Kitab-kitab tersebut, terutama jika mereka membandingkan antara Kitabnya dengan Kitab yang lainnya.


Jadi kalau kita tidak memahami isi dan sejarah dari setiap Kitab yang bersangkutan, maka janganlah kita berkomentar jelek tentang kebenaran yang ada pada Kitab apapun.


Apalagi kalau kita tidak pernah membacanya untuk dipelajari / dianalisa lebih mendalam dan bukan untuk dibanding-bandingkan mencari kekurangan, sebab Allah pun " Maha Pengasih " tidak pernah membanding-bandingkan siapapun manusia dan Kitab yang di yakininya (tersirat di Q.5:69).
.
Oleh karena itu sampai kapanpun dan apapun agamanya, kalau orang memandang Kitab orang lain dari sudut pandang Kitabnya sendiri, maka tidak dapat menemui titik temu !
.
Sekali lagi kami ingatkan !
Dimana semua Kitab diturunkan sesuai zaman nya, karena "Allah Maha Tahu" dan "Allah Maha Bijaksana", jadi Allah menurunkan semua Kitab-kitabNYA tidak mungkin bertujuan akan membuat kelompok manusia di kemudian hari saling berdebat apalagi bermusuhan !
.
Akan tetapi, ironisnya yang terjadi sekarang ini akibat dari :
"Manusia yang Terlampau Tahu ".
Sehingga hampir setiap orang pemegang Kitab, hanya membenarkan ayat-ayat dalam Kitabnya masing-masing, maka berakibat "Fanatisme diri" masing-masing.
.
Dengan demikian apabila masih ada manusia yang meremehkan Kitab orang lain berarti meremehkan juga Kitabnya sendiri.




Ingat " Sifat ALLAH MAHA BIJAK " tidak berubah dari awal sampai kini !
.
Begitu pula " Sifat Syaitan tidak berubah dari dulu, raja bohong, dan penyesat manusia sampai kini !" (di tegaskan di Q.25:29)
.
Oleh karena itu kita harus hati-hati membaca Kitab Suci.
.
Karena Allah sudah menegaskan
dalam KitabNYA, bahwa hanya
satu tokoh saja pemeran
"EPISODE PENYALIBAN"
memang harus menjadi suatu momok
" perbantahan " sejak zaman dahulu.
.
Jadi sekarang ini kita harus
sadari apakah kita termasuk
para pemeran tokoh dari kisah
yang bersambung tersebut ?
.
Dimana saat ini, kita sedang
memasuki lintasan
"EPISODE PERBANTAHAN".


Hal itu memang sudah terprediksi kan sehingga tergambar secara tertulis sejak zaman dahulu di:Injil Lukas. 2 : 34
Yaitu: .......''Sesungguhnya anak ini (Yesus) .......... untuk menjadikan suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.
.
Dan 600 tahun kemudian
Al Quran. 19 : 34 , menegaskan bahwa apa yang tertulis di Injil Lukas 2 : 34 telah terjadi !
Q.19:34 Yaitu : Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantah tentang kebenarannya.
.
Jadi kalau kita sudah mengerti makna dari kedua Kitab tersebut, maka kita akan menyimpul kan bahwa Injil dan Al Quran tidak saling bersinggungan.
Sebab: zaman nya saja sudah berbeda.
.
Dimana
Injil berisi Kisah Peristiwa dari satu tokoh.
Sedangkan Al Quran berisi cerita akan situasi dari banyak tokoh, yang tergambar : Tentang keadaan di zaman itu, sudah ada orang-orang yang berbantah-bantahan akan peristiwa penyaliban yang telah berlalu 600 tahun silam !
.
Kebenaran dari kedua Kitab tersebut nyata adanya.
Sebab masing-masing Kitab mengandung sejarah kehidupan akan keyakinan manusia terhadap kuasa Allah di sekitar wilayah dimana isi Kitab yang bersangkutan ditulis, sesuai dengan zaman nya masing-masing.
Akan tetapi karena sifat ego dari manusia, sehingga tidak mau tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
Coba kita pikirkan sejenak !
.
Kebenaran Al Quran ayat 4 : 156-157 dengan nyata membuktikan bahw di zaman dulu saja pada saat Al Quran diturunkan, yaitu 600 tahun setelah peristiwa penyaliban, sudah banyak orang-orang yang menyangkal peristiwa tersebut !!!
Apalagi sekarang ini dimana jelas waktu sudah bertambah, pasti semakin banyak pula anak cucu Adam yang menyangkal peristiwa penyaliban !!!!!
Jadi jangan heran kalau di zaman sekarang ini
" EPISODE PENYALIBAN "
tetap menjadi bahan
" PERDEBATAN "
yang di lakukan oleh banyak orang di seluruh dunia /
INTERNASIONAL !
Sekali lagi mohon maaf sebelumnya.
Kalau Anda-anda mau memahami itu semua, silahkan kunjungi Blog kami yang telah tersedia.

.

Tetapi perlu kami ingatkan !
Blog kami bukan pelajaran agama !
Jadi hanya orang yang berAkal dan berjiwa besar serta dilandasi fitrah diri, yang kami tawarkan untuk berkunjung ke Blog kami.

Kalau sudah siap dan mau tahu lebih jelas,
kunjungi :



.
.

.©2007 siapa yang disalib.
Terima kasih atas kesempatan anda membaca tulisan ini.
Tulisan ini kami sajikan bukan untuk bahan perdebatan !
Akan tetapi sebagai bahan pemikiran yang berdasarkan kenyataan.
Sebab, memang kenyataan itu lah yang ada dalam Kitab Anda masing-masing.




Ref: Al Quran Dept Agama RI 1982 & Injil (LAI 1971).








Penulis